Rabu, 12 Maret 2014

makalah

MAKALAH
FILSAFAT ILMU
Tentang
SAINS DAN AGAMA
Oleh:
Kelompok X
Nama         :        Maula Asyari Ibrahim
Erwin Asjayasari Arsyad
Muh. Zainuddin
Khoirush Shobirin Zulkarnain
Umar Sulfikar
Jurusan      :        Geografi Sains
Semester    :        I (Satu)

Kata Pengantar
Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya kami  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah Filsafat Ilmu.
Agama  sebagai  sistem  kepercayaan  dalam  kehidupan  umat  manusia  dapat  dikaji  melalui  berbagai  sudut  pandang.  Islam  sebagai  agama  yang  telah  berkembang  selama  empat  belas  abad  lebih  menyimpan  banyak  masalah  yang  perlu  diteliti,  baik  itu  menyangkut  ajaran  dan  pemikiran  keagamaan  maupun  realitas  sosial,  politik,  ekonomi  dan  budaya.
Dalam penyusunan tugas ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan teman-teman, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi dapat teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Sains dan Agama yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen/asisten dosen  saya  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah kami di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.




                                                                                    ii
DAFTAR ISI                                                                                                               Halaman
Halaman Judul..................................................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 1           
A. Latar Belakang............................................................................................................... 1-2
B. Rumusan Masalah........................................................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan............................................................................................................. 5
D. Manfaat Penulisan.......................................................................................................... 5
E. Metode Penulisan............................................................................................................ 5
Bab II Pembahasan.............................................................................................................. 6
A. Pengertian Sains dan Agama.......................................................................................... 6
B. Sejarah Hubungan Sains dan Agama.............................................................................. 7-9
C. Peran Agama terhadap Perkembangan Sains.................................................................. 10-11
D. Kasus Pertentangan Saintis dan Agamawan                                                                   12-14
E.   Al-Qur’an Sebagai Sumber Ilmu Sains                                                                            15-17
Bab III Penutup................................................................................................................... 18
A.  Kesimpulan..................................................................................................................... 18
B.  Saran ............................................................................................................................... 18
Daftar Pustaka..................................................................................................................... 19





PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan telah berjalan dengan demikian cepat. Sementara itu, pemahaman yang terkait dengan pengembangan yang mendasarkan pada keimanan berjalan lebih lambat. Para ilmuwan berargumentasi bahwa semua penelitian dilakukan dengan langkah yang dapat dipertanggungjawabkan, sebaliknya para agamawan lebih sibuk membicarakan persoalan akhirat dan pesan-pesan moral, tidak heran jika selalu terjadi benturan antara ilmu pengetahuan dan agama.
Kaum agamawan memerlukan etika dalam arti, memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana harus hidup kalau ia mau menjadi baik, jangan sampai akal budi dikesampingkan dari agama. Oleh karena itu kaum agamawan yang diharakan betul-betul memakai rasio dan memahami ilmu pengetahuan.
Pada sisi lainnya, kemajuan ilmu pengetahuan tidaklah dapat menjawab semua hal. Memang sains tidak dimaksudkan seperti itu, hal yang membuat sains begitu berharga adalah karena sains membuat kita belajar tentang diri kita sendiri sendiri. Oleh karenanya diperlukan kearifan dan kerendahan hati untuk dapat memahami dan melakukan interpretasi dan ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.
Perkembangan sains dan ilmu pengetahuan manusia diilhami dari tumbuhnya sikap pencerahan rasional manusia sebagai masyarakat modern, dan dikenal sebagai sikap rasionalisme. Dengan pandangan rasionalisme, semua tuntunan haruslah dapat dipertanggungjawabkan secara argumentative.
Ciri paling utama dalam rasionalisme adalah kepercayaan pada akal budi manusia, segala seuatu harus dapat dimengerti secara rasional. Sebuah pernyataan hanyab boleh diterima sebagai sebuah kebenaran apabila dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Dalam sisi lainnya, tradisi, berbagai bentuk wewenang tradisional.
Perkembangan selama ini menunjukkan bahwa sains didominasi oleh aliran positivisme, yaitu sebuah aliran yang sangat mengedepankan metode ilmiah dengan

            2
menempatkan asumsi-asumsi metafisis, aksiologis dan epistemologis. Menurut sains, kebenaran adalah sesuatu yang empiris, logis, konsisten, dan dapat diverifikasi. Sains menempatkan kebenaran pada sesuatu yang bias terjangkau oleh indra manusia.
Sedangkan agama menempatkan kebenaran tidak hanya meliputi hal-hal yang terjangkau oleh indra tetapi juga yang bersifat non indrawi. Sesuatu yang datangnya dari Tuhan harus diterima dengan keyakinan, kebenaran disini akan menjadi rujukan bagi kebenaran-kebenaran yang lain.
Sains dan agama berbeda, karena mungkin mereka berbeda paradigma, pengklasifikasian secara jelas antara sains dan agama menjadi suatu trend tersendiri di masyarakat zaman renaisan dan trend ini menjadi dasar yang kuat hingga pada perkembangan selanjutnya. Akibatnya, agama dan sains berjalan sendiri-sendiri dan tidak beriringan, maka tak heran kalau kemudian terjadi pertempuran di antara keduanya. Sains menuduh agama ketinggalan zaman, dan agama balik menyerang dengan mengatakan bahwa sains sebagai musuh Tuhan.











                        3
B.     Rumusan Masalah
Pembahasan mengenai ilmu pengetahuan dan agama tidak terlepas dari masalah dasar dari perdebatan, yaitu persoalan “kebenaran” dan persoalan “etika” dalam kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan kearifan manusia untuk bersikap rendah hati dalam memahami esensi kebenaran dan etika dalam kehidupan ini.
Dapat dijelaskan dalam menelaah fakta dan kebenaran yang ada di kitab suci maupun yang Nampak secara fisik di alam semesta ini diperlukan kearifan dan etika dalam proses pemahaman tersebut. Sikap arif dari manusia yang mencoba menginterpretasi hukumTuhan maupun hokum alam akan memberikan kesimpulan atas kebenaran yang ada dapat lebih dipertanggungjawabkan dalam konteks sains maupun dalam konteks religi.
Ketika pada abad ke 17 dan ke 18 muncul pemahaman “pencerahan” di Eropa sebagai sikap penentang terhadap segala bentuk tradisi dan dogma, hal ini dianggap sebagai bentuk kesadaran akan hakekat manusia sebagai individu yang mempunyai akal budi. Zaman pencerahan ini membawa manusia semakin maju kea rah rasionalitas dan kesempurnaan moral (Suseno. 1992).
Dengan pemahaman rasionalitas, ilmu pengetahuan telah tumbuh berkembang dan mendasarkan pada kegiatan pengamatan, eksperimen, dan deduksi menurut ilmu ukur. Dengan demikian manusia semakin bersikap rasional dalam memandang alam semesta. Gerakan-gerakan yang terjadi di alam, misalnya tidak lagi diyakini sebagai disebabkan oleh kekuatan-kekuatan gaib yang menggerakan dan berada dibelakangnya. Pergerakan itu diyakini terjadi didasarkan kekuatan-kekuatan objektif alam itu sendiri yang dikenal sebagai hukum
Dalam sudut pandang yang sama, penguatan eksistensi agama di dunia seharusnya juga dilakukan dengan lebih membuka diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaimanapun, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah rahmat Tuhan sebagai hasil dari dibekalinya manusia dengan akal budi. Pemahaman yang lebih baik mengenai sains dan rasionalitas akan membuat para agamawan menjadi manusia yang juga akan sangat arif dalam menyikapi perintah Tuhan dalam menata kehidupan beragama manusia di dunia ini.

                                                                                    4
C.    Tujuan Penulisan

Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah FILSAFAT ILMU.
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian Sains dan Agama
2. Untuk mengetahui sejarah hubungan Sains dan Agama
3. Untuk mengetahui peran Agama terhadap perkembangan Sains
D.    Manfaat Penulisan
1. Kita dapat mengetahui pengertian Sains dan Agama
2. Kita dapat mengetahui sejarah hubungan Sains dan Agama
3. Kita dapat mengetahui peran Agama terhadap perkembangan Sains
E.    Metode Penulisan

Untuk mendapatkan data dan informasi yang di perlukan, kami mempergunakan metode pengumpulan data/informasi yang kami dapatkan dari internet. Kemudian kami kembangkan data/informasi itu menjadi lebih baik sehingga pembaca lebih mudah memahami kata-katanya dan tertarik untuk membacanya.












5
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Sains dan Agama
Sains atau Ilmu bisa berarti proses memperoleh pengetahuan, atau pengetahuan terorganisasi yang diperoleh lewat proses tersebut. Proses keilmuan adalah cara memperoleh pengetahuan secara sistematis tentang suatu sistem. Perolehan sistematis ini umumnya berupa metode ilmiah, dan sistem tersebut umumnya adalah alam semesta. Ilmu dapat dibagi atas humaniora, ilmu sosial, ilmu pasti (ilmu dalam arti yang lebih ketat), Ilmu terapan (rekayasa), Matematika, Ilmu alam, Ilmu kedokteran dan farmasi. Pemisahan ini berdasarkan konsep filsafat Negara Barat. Teologi, bagian lain dari pengetahuan manusia, tidak dianggap ilmiah sehingga dipisahkan (Wikipedia Indonesia). Sains menuntut kepercayaan fundamental tentang adanya penjelasan rasional atas segala sesuatu; sains juga membutuhkan imajinasi dan keberanian yang tidak berbeda dengan kreativitas keagamaan. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan ber-religi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan (Wikipedia Indonesia). Dalam bahasa sansekerta, kata agama berarti tradisi. Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa agama artinya tidak bergerak. Dalam bahasa Latin, agama itu hubungan manusia dengan manusia super. Ada juga yang beranggapan bahwa agama merupakan pengakuan dan pemuliaan kepada Tuhan. Dalam bahasa Eropa, Agama itu sesuatu yang tidak dapat dicapai hanya dengan tenaga akal dan pendidikan saja. Agama itu kepercayaan kepada adanya kekuasan mengatur yang bersifat luar biasa, yang pencipta dan pengendali dunia, serta yang telah memberikan kodrat rohani kepada manusia yang berkelanjutan sampai sesudah manusia mati.
Sedangkan dalam bahasa Indonesia, agama merupakan hubungan manusia Yang Maha Suci yang dinyatakan dalam bentuk suci pula dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu.Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
            6
B.     Sejarah Hubungan Sains dan Agama
Hubungan sains dan agama dari abad ke abad mengalami pasang surut. Ada masa saat islam dan sains terhubung secara harmonis ada pula konflik yang terjadi dalam hubungan islam dan sains. Contoh hubungan agama dan sains yang berlangsung harmonis pada masa kejayaan peradaban islam. Istilah sains dalam Islam, sebenarnya berbeda dengan sains dalam pengertian Barat modern saat ini, jika sains di Barat saat ini difahami sebagai satu-satunya ilmu, dan agama di sisi lain sebagai keyakinan, maka dalam Islam ilmu bukan hanya sains dalam pengertian Barat modern, sebab agama juga merupakan ilmu, artinya dalam Islam disiplin ilmu agama merupakan sains.
Banyak ilmuwan muslim dari tahun 700 M hingga Abad 13 M yang mengembangkan beragam ilmu pengetahuan, seperti astologi, astronomi, kedokteran, anatomi, optik, farmakologi, psikologi, ilmu bedah, zoologi, biologi, botani, mineralogi, metalurgi, sosiologi, hidrostatik, filsafat, puisi, musik, navigasi, sejarah, arsitektur, geografi, fisika, matematika, serta kimia. Dalam Islam tidak dikenal pemisahan esensial antara “ilmu agama” dengan ilmu “ilmu profan”. Berbagai ilmu dan perspektif inteletual yang dikembangkan dalam Islam memang mempunyai suatu hirarki. Tetapi herarki ini pada akhirnya bermuara pada pengetahauan tentang “Yang Maha Tunggal” – Substansi dari segenap ilmu.
Inilah alasan kenapa para ilmuawan Muslim berusaha mengintergrasikan ilmu-ilmu yang dikembangkan peradaban-peradaban lain ke dalam skema hirarki ilmu pengetahuan menurut Islam. Dan ini pulalah alasan kenapa para “ulama”, pemikir, filosof dan ilmuwan Muslim sejak dari al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina sampai al-Ghazali, Nashir al-Din al-Thusi dan Mulla Shadra sangat peduli dengan klassifikasi ilmu-ilmu.
Berbeda dengan dua klasifikasi yang dikemukakan di atas, yakni ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, para pemikir keilmuan dan ilmuwan Muslim di masa-masa awal membagi ilmu-ilmu pada intinya kepada dua bagian yang diibaratkan dengan dua sisi dari satu mata koin; jadi pada esesnsinya tidak bisa dipisahkan. Yang pertama, adalah al-„ulûm al-naqliyyah, yakni ilmu-ilmu yang disampaikan Tuhan melalui wahyu, tetapi melibatkan penggunaan akal. Yang kedua adalah al-„ulûm al-„aqliyyah, yakni ilmu-ilmu intelek, yang diperoleh hampir sepenuhnya melalui penggunaan akal dan pengalaman empiris. Kedua bentuk ilmu ini secara bersama-sama disebut al-„ulûm alhushuli, yaitu ilmu-ilmu perolehan.
7
Isitilah terakhir ini digunakan untuk membedakan dengan “ilmu-ilmu” (ma‟rifat) yang diperoleh melalui ilham (kasyf).
Konflik antara agama dan sains ,khususnya di dunia Barat, telah dimulai pada masarenaisans sejak abad 15, ketika Galileo menentang paham geosentris (bumi merupakan pusat tata surya) yang dianut oleh gereja. Galileo dianggap mengingkari keyakinan agamanya (kristen) bahwa bumi adalah pusat edar tata surya. Ketaksesuaian agama dan sains berlanjut hingga masa sesudahnya (masa Newton / masa sains modern).
Sejarah sains Eropa masa kebangkitan (abad 14 dan 15) mencatat bahwa sains muncul tidak hanya dalam rangka melepaskan hegemonik gereja sebagai institusi pemegang kekuasaan tertinggi, tetapi juga sebagai momentum transformasi sains ke dalam utilitas teknik (aplikasi nyata). Para ahli sejarah sepakat bahwa sejarah perkembangan sains modern beserta aplikasi teknologi yang ada sekarang diawali oleh Newton (mekanika klasik).
Mekanika klasik Newton berdampak besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan saat itu. Konsep mekanika klasik Newton bersifat mekanistik deterministik (apabila kondisi awal dari sesuatu dapat ditentukan, maka kondisi berikutnya dapat diprediksi secara tepat). Pada abad ke 19,adalah puncak konflik agama dan sain saat Charles Darwin memunculkan bukunya The Origin of Species (hanya dengan ‘menjejer dan mengurutkan’ tulang tengkorak berusaha menghubungkan secara evolusioner)
Ada 2 pendapat tentang teori ini,yaitu :
1. Kelompok pendukung teori Darwin (kalangan materialisme dan komunisme). Mereka berdalih bahwa teori tersebut merupakan pondasi atau dasar dari paham dan ajaran yang mereka anut. Tokoh yang paling terkenal dalam mendukung teori Darwin ini salah satunya adalah Karl Marx.
2. Kelompok penentang teori Darwin. Alasan mereka cukup beragam dalam penentangan terhadap teori tersebut. Diantaranya adalah Darwin terlalu berspekulasi terhadap teorinya sendiri, dan ini terlihat dalam bukunya (The Origin of Species). Adapun alasan yang lain adalah karena Darwin telah meniadakan keberadaan Sang Pencipta dalam penciptaan makhluk hidup itu sendiri.

                                                                                    8
Namun sejarah juga mencatat adanya konflik agama dan sains,yaitu pada saat teori-teori baru ditemukan oleh:
Galileo (Abad ke-15 M)                    
Newton (Abad ke-17 M)
Darwin (Abad ke-19 M).

Pertentangan di dalam teori Darwin ini sangatlah luar biasa di dunia barat hingga hampir akhir abad ke-20. Tak ayal, masih banyak ilmuwan yang mengkaji akan keabsahan teori ini. Karena sesungguhnya, ilmu pengetahuan yang ada dan dipelajari ini sepatutnya diiringi dengan meyakini akan keberadaan Tuhan. Hal ini sejalan dengan ungkapan manusia terpintar yang pernah ada, Albert Einstein yang menyatakan, “Saya tidak bisa membayangkan ada ilmuwan sejati tanpa keimanan mendalam seperti itu. Ibaratnya: ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang” (Harun Yahya: 2001)  Masa Reda Konflik Agama dan Sains mulai berlangsung pada abad 21.
Masyarakat dan ilmuwan mulai terbuka tentang isu-isu agama dan sains. Muncul paradigma baru dalam ilmu pengetahuan mekanistik deterministik menjadi probabilistik relatifistik. Sesuatu memiliki banyak kemungkinan alternatif pemecahan persoalan. Melahirkan ilmu-ilmu baru seperti material science, mikro elektronika, kimia fisika kuantum, astrofisika, dll.
Bahkan Ian G. Barbour (2002:47) mencoba memetakan hubungan sains dan agama dengan membuka kemungkinan interaksi di antara keduanya. Melalui tipologi posisi perbincangan tentang hubungan sains dan agama, dia berusaha menunjukkan keberagaman posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan sains dan agama.
Tipologi ini berlaku pada disiplin-disiplin ilmiah tertentu, salah satunya adalah biologi. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu: Konflik, Independensi, Dialog, dan Integrasi yang tiap-tiap variannya berbeda satu sama lain.

                                    9
C.     Peran Agama Terhadap Perkembangan Sains
Peran Islam dalam perkembangan iptek pada dasarnya ada 2 (dua) Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa Aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh bangunan ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti menjadi Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan, melainkan menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan.
Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan. Kedua, menjadikan Syariah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar bagi pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar manfaat (pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Paradigma Hubungan Agama-Iptek Untuk memperjelas, akan disebutkan dulu beberapa pengertian dasar. Ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method) (Jujun S. Suriasumantri, 1992). Sedang teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilan yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari (Jujun S. Suriasumantri,1986). Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek (Agus, 1999).
Agama yang dimaksud di sini, adalah agama Islam, yaitu agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya (dengan aqidah dan aturan ibadah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri (dengan aturan akhlak, makanan, dan pakaian), dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (dengan aturan mu’amalah dan uqubat/system pidana) (An-Nabhani, 2001). paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan.Aqidah Islam yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits menjadi qa’idah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia (An-Nabhani, 2001).
10
Paradigma ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu. Ini bias kita pahami dari ayat yang pertama kali turun (artinya) : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (QS Al-Alaq 96 ; 1) Ayat ini berarti manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam (Al-Qashash, 1995:81).
Paradigma Islam ini menyatakan bahwa, kata putus dalam ilmu pengetahuan bukan berada pada pengetahuan atau filsafat manusia yang sempit, melainkan berada pada ilmu Allah yang mencakup dan meliputi segala sesuatu (Yahya Farghal, 1994:117). Firman Allah SWT (artinya) : Dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.
(QS An-Nisaa` 4 : 126) Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS Ath-Thalaq 65 : 12) Itulah paradigma yang dibawa Rasulullah SAW (w. 632 M) yang meletakkan Aqidah Islam yang berasas Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah sebagai asas ilmu pengetahuan.
Beliau mengajak memeluk Aqidah Islam lebih dulu, lalu setelah itu menjadikan aqidah tersebut sebagai pondasi dan standar bagi berbagai pengetahun. Ini dapat ditunjukkan misalnya dari suatu peristiwa ketika di masa Rasulullah SAW terjadi gerhana matahari, yang bertepatan dengan wafatnya putra beliau (Ibrahim). Orang-orang berkata. Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim. Maka Rasulullah SAW segera menjelaskan : Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, akan tetapi keduanya termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah.
Dengannya Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya (HR. Al-Bukhari dan An-Nasa`i) (Al-Baghdadi, 1996:10) Dengan jelas kita tahu bahwa Rasulullah SAW telah meletakkan Aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan, sebab beliau menjelaskan, bahwa fenomena alam adalah tanda keberadaan dan kekuasaan Allah, tidak ada hubungannya dengan nasib seseorang.
Hal ini sesuai dengan aqidah muslim yang tertera dalam Al-Qur`an (artinya) : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (QS Ali Imran 3 :190)
                        11
D.    Kasus Pertentangan Saintis dan Agamawan
Kasus pengucilan Galileo oleh Gereja Katolik merupakan contoh nyata betapa agama diinterpretasikan tidak dengan tepat dalam hal pencarian kebenaran, sekalipun Gereja Katolik merehabilitasi kesalahan tersebut 500 tahun kemudian, peristiwa tersebut tetap saja menjadi acuan betapa agama selalu ketinggalan dibandingkan dengan sains.
Galileo Galilei (15 Februari 1564 – 8 Januari 1642) adalah seorang astronom, filsuf dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah, ia diajukan ke pengadilan Gereja Italia pada 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan keyakinan Gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta, pemikirannya ini menyebabkan Dinas Suci Inkuisi gereja Katolik mengucilannya.
Otoritas tertinggi Gereja Katolik bahkan ingin menghapuskannya dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Semua itu terjadi karena ilmuwan yang juga menulis puisi dan kritik sastra ini menyuarakan sebuah pandangan yang waktu itu dianggap sebagai sebuah kekafiran besar yang akan merusak akidah umat.
Pandangan kosmologis yang dinggap “kafir” ini, yang juga dikenal sebagai sistem Heliosentris sebenarnya sudah dipikirkan oleh manusia sejak lebih dari 2.000 tahun yang silam. Karena ajaran Aristoteles dan kitab Suci Injil yang mengunggulkan sistem Geosentris yang dirumuskan Ptolomeus, sistem Heliosentris ini hilang dari dunia pengetahuan manusia. Sistem kosmos ini kemudian muncul kembali di Eropa Renaisans lewat pemikiran biarawan Nikolaus Kopernikus (1473 – 1543). Pandangan ini kemudian dikukuhkan oleh Johannes Kepler (1571 -1630) yang mengajukan sejumlah hokum gerak dan orbit benda-benda langit (Arsuka. 2004).
Gaileo mencoba menandaskan kebenaran sistem Heliosentris dengan menggunakan teorinya sendiri yang ia anggap lebih kuat. Galileo berpendapat bahwa bumi bergerak mengintari matahari dan bahwa sistemm kopernikan “lebih mendekati kenyataan daripada pandangan lain yang dikemukakan Aristoteles dan Ptolomeus.” Teori Heliosentris Kopernikus member penjelasan sederhana atas gerak-gerak planet yang telah membingungkan kaum cerdik cendekia, sambil menata ulang susunan planet-planet yang sudah dikenal saat itu, sistem Heliosentris menawarkan diri sebagai sistem yang lebih masuk akal dibandingkan dengan sistem tradisional Geosentris.
                        12
Saling menggugat pandangan religious klasik atas posisi manusia di alam semesta yang menganggap bahwa bumi adalah pusat jagat raya, dan vatikan adalah pusat dunia, sistem Heliosentris tampak absurd dilihat dari sudut pandang pengetahuan fisika yang dipahami pada waktu itu. Sistem ini juga menentang pengalaman indrawi manusia yang dengan mata telanjang melihat matahari mengedari bumi dengan terbit di timur dan surut di barat.
Sampai pada persimpangan abad ke-16 dan ke-17, para pemikir tumbuh dan terdidik dalam pemikiran Aristotelian, dalam faham fisika Aristoteles, benda-benda selalu bergerak menujun tempat mereka yang alami. Batu jatuh karena tempat alami benda-benda yang berbobot adalah pada pusat alam semesta, dan itu pula sebabnya maka bumi yang berat ini ada di tempatnya, yakni dipusat alam semesta itu.
Menerima sistem Kopernikan bukan saja berarti manampik fisika Aristoteles dan membuang sistem geosentris Ptolomeus, itu juga berarti membantah kitab suci Injil yang dengan tegas menyebutkan bahwa bumi dipasak pada tempatnya. “Oh, Thanku, kau-lah yang Maha Besar …kau pancangkan bumi pada fondasinya, tiada bergerak untuk selamanya.” (Mazmur 103:1,5).
Konflik Galileo Galilei dengan Gereja Katolik Roma adalah sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir pada masyarakat barat. Sejarah pertentangan Galileo dengan Gereja seringkali hanya ditafsirkan sebatas ketertutupan agama terhadap sains. Padahal inti persoalannya adalah pertanyaan tentang kebenaran.
Apakah sains memberi landasan bagi kita memperoleh kepastian mengenai dunia? Apakah sains bisa membawa kita untuk sampai pada kebenaran? Hokum agama kerapkali diterapkan dalam kehidupan manusia secara harafiah, sehingga penerapan tulisan dalam kitab suci mampu mengesampingkan argument ilmu pengetahuan sebagaimana terjadi dengan Galileo Galilei.
Sebuah kasus menarik lainnya adalah menyangkut bagaimana sebuah ayat di Al Quran dinterpretasi secara sangat berbeda oleh kalangan agama (dalam hal ini Departemen Agama RI), dan oleh seorang ahli matematika dan fisika dari mesir. Ayat tersebut dalah QS As Sajdah Ayat 5: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”
13
Pandangan agamawan dalam menafsirkan ayat di atas tergambar dari penafsiran yang dilakukan oleh Departemen Agama Republik Indonesia sebagaimana terdapat dalam catatan kaki pada terjemehan Al Quran versi Departemen Agama RI, bahawa ayat tersebut hanyalah merupakan tamsil atau perumpamaan semata atas keagungan dan kebesaran Tuhan.
Contoh penafsiran yang dilakukan oleh Departemen Agama RI ini adalah contoh nyata betapa penafsiran ayat-ayat yang terdapat dalam kitab suci belum dilakukan dengan pendekatan rasionalitas ilmu pengetahuan modern, penafsiran seperti itu bias di mafhumi karena tentu dilakukan dengan dsar pandangan dogmastis yang lebih sempit dri sutu otoritis tradisional yang mempunyai keterbatasan pemahaman sains dan ilmu pengetahuan alam modern seperti matematika, fisika maupun astronom.
Sementara itu, Dr. Mansour Hassab Elnaby, seorang ahli matematikadan fisika dari Mesir, dengan pemahaman fisika dan matematikanya mencoba menginterpretasikan ayat diatas dari sudut pandang teori fisika, matematika dan astronomi. Mengacu pada QS As Sajdah Ayat 5, Dr. Mansour menyampaikan bahwa jarak yang dicapai “sang urusan” selama satu hari adalah sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan. Dr. Mansour menyatakan bahwa “sang urusan” inilah yang diduga sebagai sesuatu “yang berkecepatan cahaya”.
Dr. Mansour Hassab Elnaby, mengurakan secara jelas dan sistematis tentang cara menghitung kecepatan cahaya berdasarkan ayat Al Quran diatas. Dalam menghitung menghitung kecepatan cahaya ini, Dr. Mansour menggunakan sistem yang lazim dipakai oleh ahli astronomi yaitu sistem siderial. Dengan pendekatan ini Dr.
Mansour membuktikan secara matematis bahwa hubungan “sehari = seribu tahun” membawa pada hubungan matematika fisika yang menghasilkan angka kecepatan cahaya. Deskripsi detil mengenai pembuktian dan perhitungan yang dilakukan oleh Dr. Mansour dapat dilihat dalam lampiran.
Ilmu-ilmu modern telah berkembang berdasarkan prinsip rasionalitas ini, sebelumnya pemahaman ilmu pengetahuan seperti mandul ketika semua pengetahuan manusia dijalankan secara dogmatis berdasarkan dalil-dalil dari ahli-ahli Yunani kuno yang disampaikan oleh Aristoteles, Ptolemaueus, dan lain-lain, maupun sebagaimana tersurat dalam kitab suci (yang juga diinterpretasikan secara dogmatis).
14
E.     Al-Qur’an Sebagai Sumber Ilmu Sains
Di zaman sekarang, bila kita amati banyak orang yang mencoba menafsirkan beberapa ayat al-Qur’an dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan mukjizat al-Qur’an sebagai sumber segala ilmu, dan untuk menumbuhkan rasa bangga kaum muslimin karena telah memiliki kitab yang sempurna ini.Tetapi, pandangan yang menganggap bahwa al-Qur’an sebagai sebuah sumber seluruh ilmu pengetahuan ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab kita mendapati banyak ulama besar kaum muslim terdahulu pun berpandangan demikian.
Diantaranya adalah Imam al-Ghazali. Dalam bukunya Ihya ‘Ulum al-Din, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas’ud: “Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya dia merenungkan al-Qur’an”.
Selanjutnya beliau menambahkan: “Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam karya-karya dan sifat-sifat Allah, dan al-Qur’an adalah penjelasan esensi, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada batasan terhadap ilmu-ilmu ini, dan di dalam al-Qur’an terdapat indikasi pertemuannya (al-Qur’an dan ilmu-ilmu)”.
Bahkan pada sebuah sumber yang dikutip oleh penulis, dijelaskan bahwa mukjizat Islam yang paling utama ialah hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Surah pertama (al-Alaq, ayat 1-5) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ialah nilai tauhid, keutamaan pendidikan, dan cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan diberikan penekanan yang mendalam.
Firman Allah SWT (Al-alaq 1-5) :
Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Kata “bacalah” dalam ayat tersebut mengandung arti tentang perintah menuntut ilmu, apalagi pada saat itu (awal kenabian), bangsa Arab sedang berada pada zaman jahiliyah (kebodohan).
15
Jika sains dikaitkan dengan fenomena alam, maka dalam al-Qur’an lebih dari 750 ayat menjelaskan tentang fenomena alam. Salah satunya adalah pada Surah Luqman, ayat 10.
Artinya: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan kami turunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”
Dalam ayat tersebut, menjelaskan tentang betapa besarnya kekuasaan Allah SWT. dalam menciptakan mahluk-mahlukNya. Tidak berhenti sampai disitu, kita juga diperintahkan untuk mempelajarinya (mahluk). Hal ini telah banyak dilakukan oleh orang (ilmuwan) Barat, dan malah kebanyakan dari kita hanya mengikuti apa yang mereka katakan. Padahal, kita sebagai hambaNya seharusnya memiliki keharusan yang lebih besar dari pada mereka.
Karena bila diamati, tidak sedikit dari pandangan mereka melenceng dari ajaran agama Islam. Bila kita hanya mengikuti mereka, dikhawatirkan kita akan terjerumus kedalam jalan kesesatan bersama mereka. Seperti contoh, pandangan Darwin tentang teori evolusi yang menyebutkan bahwa manusia zaman dahulu memiliki bentuk fisik menyerupai kera, itu merupakan pendapat yang tidak sesuai dengan al-Qur’an. Karena secara jelas, manusia pertama yang diciptakan Allah adalah Nabi Adam AS.
Mempelajari ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan (sains) merupakan hal yang sangat sulit, maka dari itu, Islam sangat memuliakan para ahli ilmu, sehingga dalam Surah al-Mujadilah ayat 11, derajat mereka diangkat oleh Allah SWT.
Artinya : "......... niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dalam potongan ayat tersebut, Allah mengajarkan iman dengan ilmu. Disinilah terlihat betapa pentingnya ilmu, karena orang yang beriman tanpa memiliki ilmu maka segala ibadahnya akan ditolak. Sedangkan sebaliknya, orang berilmu tanpa beriman, maka ilmunya dapat menyesatkannya menuju jalan yang dilarangNya.

                                    16
Disinilah, kita sebagai hambaNya yang beriman harus ekstra hati-hati dalam mempelajari suatu ilmu. Kita harus selalu mengembalikan semuanya kepadaNya, kita harus berusaha mencocokkan segala jenis ilmu dengan kalamNya (al-Qur’an) yang sempurna.
Karena sudah jelas, al-Qur’an membahas banyak Ilmu, antara lain ilmu yang berhubungan dengan kemasyarakatan yang memberi pedoman dan petunjuk berkaitan dengan perundang-undangan tentang halal dan haramnya suatu aktiviti, peradaban, muamalat antara manusia dalam bidang ekonomi, perniagaan, sosiolbudaya, peperangan dan perhubungan antar bangsa. Juga terdapat maklumat ataupun isyarat tentang perkara-perkara yang telah menjadi tumpuan kajian sains, misalnya, sidik jari sebagai tanda pengenal, penciptaan bumi dan langit, dan lain-lain.
Dari sini, maka pantaslah kalau di zaman ini banyak ilmuwan (ilmuwan Barat khususnya) yang berusaha mempelajari al-Qur’an demi memahami suatu kajian sains. Tapi, kita sebagai umat Muslim jangan sampai kalah dengan mereka, sehingga peradaban Islam dapat bangkit kembali. Ketika peradaban Islam mulai bangkit, maka kemungkinan besar dunia dapat dikuasai oleh Islam, sehingga konsep Islam sebagai agama yang “Rahmatan lil-‘Alamin” (kesejahteraan bagi seluruh dunia) dapat terwujud secara nyata.










17
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada kenyataannya kita memang tidak bisa mencampuradukan pola pikir sains dengan agama, terdapat perbedaan cara pikir agama dan sains. Agama memang mengajarkan untuk menjalani agama dengan penuh keyakinan, sedangkan sebaliknya dalam sains skeptisme dan keragu-raguan justru menjadi acuan untuk terus maju, mencari dan memecahkan rahasia alam.
Sains seharusnya memang dapat diuji dan diargumentasi oleh semua orang tanpa memandang apapun keyakinannya. Semua penganut agama harus memahami bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, bukan sebaliknya. Semua penganut agama harus paham bahwa sinar matahari dapat dikonversi menjadi energi, karena hal ini memang terbukti melalui pendekatan sains.Sains sebenarnya dapat mempertebal keyakinan dan keimanan, namun demikian iman juga dapat digoyahkan oleh sains seandainya dicampuradukan dengan pemahaman agama. Pengkaitan fenomena alam dengan ayat-ayat suci secara serampangan bias jadi malah akan memberikan pemahaman yang salah. Bagi para agamawan yang kurang memahami sains, tindakan ini akan menyesatkan. Sebaliknya, mengkaitkan sains dengan agama oleh mereka yang tidak atau kurang dibekali agama bisa membuat kesimpulanyang diambil menjadi konyol dan menggelikan.
Dari sini, maka pantaslah kalau di zaman ini banyak ilmuwan (ilmuwan Barat khususnya) yang berusaha mempelajari al-Qur’an demi memahami suatu kajian sains. Ketik Islam mulai bangkit, maka kemungkinan besar dunia dapat dikuasai oleh Islam, sehingga konsep Islam sebagai agama yang “Rahmatan lil-‘Alamin” (kesejahteraan bagi seluruh dunia) dapat terwujud secara nyata.
B.     Saran
Berdasarkan hal di atas kami mengajak pembaca untuk bisa lebih mempelajari lebih mendalam tentang Sains dan Agama. Sehingga pembaca dapat menambah wawasan/pengetahuan tentang Sains dan Agama, adapun kekurangan pada makalah ini, kami mohon maaf atas segalah kekurangan, karena tidak adalah yang sempurna di dunia ini, kami berterima kasih kepada pembaca yang telah membaca makalah ini, semoga makalah ini bisa bermanfaat. “Assalamu Alaikum Waromatullahi wabarakatu”

18
DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.com/
http://kumpulanilmu2.blogspot.com/2013/02/










19