MAKALAH
FILSAFAT
ILMU
Tentang
SAINS
DAN AGAMA
Oleh:
Kelompok X
Nama
: Maula
Asyari Ibrahim
Erwin
Asjayasari Arsyad
Muh.
Zainuddin
Khoirush
Shobirin Zulkarnain
Umar
Sulfikar
Jurusan :
Geografi Sains
Semester : I (Satu)
Kata
Pengantar
Segala puji
hanya milik Allah SWT.
Shalawat dan salam
selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat
limpahan dan rahmat-Nya kami mampu
menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu.
Agama sebagai
sistem kepercayaan dalam
kehidupan umat manusia
dapat dikaji melalui
berbagai sudut pandang.
Islam sebagai agama
yang telah berkembang
selama empat belas
abad lebih menyimpan
banyak masalah yang
perlu diteliti, baik
itu menyangkut ajaran
dan pemikiran keagamaan
maupun realitas sosial,
politik, ekonomi dan
budaya.
Dalam
penyusunan tugas ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami
menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat
bantuan teman-teman, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi dapat teratasi.
Makalah
ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Sains dan Agama yang
kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi,
dan berita. Dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Negeri Makassar.
Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.
Untuk itu, kepada dosen/asisten dosen saya
meminta masukannya demi
perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang dan
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
ii
DAFTAR ISI Halaman
Halaman
Judul..................................................................................................................... i
Kata
Pengantar.................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
A.
Latar Belakang............................................................................................................... 1-2
B.
Rumusan Masalah........................................................................................................... 4
C.
Tujuan Penulisan............................................................................................................. 5
D.
Manfaat Penulisan.......................................................................................................... 5
E.
Metode Penulisan............................................................................................................ 5
Bab
II
Pembahasan.............................................................................................................. 6
A.
Pengertian Sains dan Agama.......................................................................................... 6
B.
Sejarah Hubungan Sains dan Agama.............................................................................. 7-9
C.
Peran Agama terhadap Perkembangan Sains.................................................................. 10-11
D.
Kasus Pertentangan Saintis dan Agamawan 12-14
E. Al-Qur’an
Sebagai Sumber Ilmu Sains 15-17
Bab
III
Penutup................................................................................................................... 18
A. Kesimpulan..................................................................................................................... 18
B. Saran ............................................................................................................................... 18
Daftar
Pustaka..................................................................................................................... 19
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan telah berjalan dengan demikian cepat. Sementara itu,
pemahaman yang terkait dengan pengembangan yang mendasarkan pada keimanan
berjalan lebih lambat. Para ilmuwan berargumentasi bahwa semua penelitian
dilakukan dengan langkah yang dapat dipertanggungjawabkan, sebaliknya para
agamawan lebih sibuk membicarakan persoalan akhirat dan pesan-pesan moral, tidak
heran jika selalu terjadi benturan antara ilmu pengetahuan dan agama.
Kaum
agamawan memerlukan etika dalam arti, memakai akal budi dan daya pikirnya untuk
memecahkan masalah bagaimana harus hidup kalau ia mau menjadi baik, jangan
sampai akal budi dikesampingkan dari agama. Oleh karena itu kaum agamawan yang
diharakan betul-betul memakai rasio dan memahami ilmu pengetahuan.
Pada
sisi lainnya, kemajuan ilmu pengetahuan tidaklah dapat menjawab semua hal.
Memang sains tidak dimaksudkan seperti itu, hal yang membuat sains begitu
berharga adalah karena sains membuat kita belajar tentang diri kita sendiri
sendiri. Oleh karenanya diperlukan kearifan dan kerendahan hati untuk dapat
memahami dan melakukan interpretasi dan ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama
tanpa ilmu pengetahuan buta.
Perkembangan
sains dan ilmu pengetahuan manusia diilhami dari tumbuhnya sikap pencerahan
rasional manusia sebagai masyarakat modern, dan dikenal sebagai sikap
rasionalisme. Dengan pandangan rasionalisme, semua tuntunan haruslah dapat
dipertanggungjawabkan secara argumentative.
Ciri
paling utama dalam rasionalisme adalah kepercayaan pada akal budi manusia,
segala seuatu harus dapat dimengerti secara rasional. Sebuah pernyataan hanyab
boleh diterima sebagai sebuah kebenaran apabila dapat dipertanggungjawabkan
secara rasional. Dalam sisi lainnya, tradisi, berbagai bentuk wewenang
tradisional.
Perkembangan
selama ini menunjukkan bahwa sains didominasi oleh aliran positivisme, yaitu
sebuah aliran yang sangat mengedepankan metode ilmiah dengan
2
menempatkan
asumsi-asumsi metafisis, aksiologis dan epistemologis. Menurut sains, kebenaran
adalah sesuatu yang empiris, logis, konsisten, dan dapat diverifikasi. Sains
menempatkan kebenaran pada sesuatu yang bias terjangkau oleh indra manusia.
Sedangkan
agama menempatkan kebenaran tidak hanya meliputi hal-hal yang terjangkau oleh
indra tetapi juga yang bersifat non indrawi. Sesuatu yang datangnya dari Tuhan
harus diterima dengan keyakinan, kebenaran disini akan menjadi rujukan bagi
kebenaran-kebenaran yang lain.
Sains
dan agama berbeda, karena mungkin mereka berbeda paradigma, pengklasifikasian
secara jelas antara sains dan agama menjadi suatu trend tersendiri di
masyarakat zaman renaisan dan trend ini menjadi dasar yang kuat hingga pada
perkembangan selanjutnya. Akibatnya, agama dan sains berjalan sendiri-sendiri
dan tidak beriringan, maka tak heran kalau kemudian terjadi pertempuran di
antara keduanya. Sains menuduh agama ketinggalan zaman, dan agama balik
menyerang dengan mengatakan bahwa sains sebagai musuh Tuhan.
3
B. Rumusan
Masalah
Pembahasan
mengenai ilmu pengetahuan dan agama tidak terlepas dari masalah dasar dari
perdebatan, yaitu persoalan “kebenaran” dan persoalan “etika” dalam kehidupan.
Oleh karena itu, diperlukan kearifan manusia untuk bersikap rendah hati dalam
memahami esensi kebenaran dan etika dalam kehidupan ini.
Dapat
dijelaskan dalam menelaah fakta dan kebenaran yang ada di kitab suci maupun
yang Nampak secara fisik di alam semesta ini diperlukan kearifan dan etika
dalam proses pemahaman tersebut. Sikap arif dari manusia yang mencoba
menginterpretasi hukumTuhan maupun hokum alam akan memberikan kesimpulan atas
kebenaran yang ada dapat lebih dipertanggungjawabkan dalam konteks sains maupun
dalam konteks religi.
Ketika
pada abad ke 17 dan ke 18 muncul pemahaman “pencerahan” di Eropa sebagai sikap
penentang terhadap segala bentuk tradisi dan dogma, hal ini dianggap sebagai
bentuk kesadaran akan hakekat manusia sebagai individu yang mempunyai akal
budi. Zaman pencerahan ini membawa manusia semakin maju kea rah rasionalitas
dan kesempurnaan moral (Suseno. 1992).
Dengan
pemahaman rasionalitas, ilmu pengetahuan telah tumbuh berkembang dan
mendasarkan pada kegiatan pengamatan, eksperimen, dan deduksi menurut ilmu
ukur. Dengan demikian manusia semakin bersikap rasional dalam memandang alam
semesta. Gerakan-gerakan yang terjadi di alam, misalnya tidak lagi diyakini
sebagai disebabkan oleh kekuatan-kekuatan gaib yang menggerakan dan berada
dibelakangnya. Pergerakan itu diyakini terjadi didasarkan kekuatan-kekuatan
objektif alam itu sendiri yang dikenal sebagai hukum
Dalam
sudut pandang yang sama, penguatan eksistensi agama di dunia seharusnya juga
dilakukan dengan lebih membuka diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaimanapun,
ilmu pengetahuan dan teknologi adalah rahmat Tuhan sebagai hasil dari
dibekalinya manusia dengan akal budi. Pemahaman yang lebih baik mengenai sains
dan rasionalitas akan membuat para agamawan menjadi manusia yang juga akan
sangat arif dalam menyikapi perintah Tuhan dalam menata kehidupan beragama
manusia di dunia ini.
4
C. Tujuan
Penulisan
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini
terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam
penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah FILSAFAT
ILMU.
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah
ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian Sains dan Agama
2. Untuk mengetahui sejarah hubungan Sains dan
Agama
3. Untuk mengetahui peran Agama terhadap
perkembangan Sains
D. Manfaat
Penulisan
1. Kita dapat
mengetahui pengertian Sains dan Agama
2. Kita dapat mengetahui
sejarah hubungan Sains dan Agama
3. Kita dapat
mengetahui peran Agama terhadap perkembangan Sains
E. Metode
Penulisan
Untuk mendapatkan data dan informasi yang di
perlukan, kami mempergunakan metode pengumpulan data/informasi yang kami
dapatkan dari internet. Kemudian kami kembangkan data/informasi itu menjadi
lebih baik sehingga pembaca lebih mudah memahami kata-katanya dan tertarik
untuk membacanya.
5
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Sains dan Agama
Sains
atau Ilmu bisa berarti proses memperoleh pengetahuan, atau pengetahuan
terorganisasi yang diperoleh lewat proses tersebut. Proses keilmuan adalah cara
memperoleh pengetahuan secara sistematis tentang suatu sistem. Perolehan
sistematis ini umumnya berupa metode ilmiah, dan sistem tersebut umumnya adalah
alam semesta. Ilmu dapat dibagi atas humaniora, ilmu sosial, ilmu pasti (ilmu
dalam arti yang lebih ketat), Ilmu terapan (rekayasa), Matematika, Ilmu alam,
Ilmu kedokteran dan farmasi. Pemisahan ini berdasarkan konsep filsafat Negara
Barat. Teologi, bagian lain dari pengetahuan manusia, tidak dianggap ilmiah
sehingga dipisahkan (Wikipedia Indonesia). Sains menuntut kepercayaan
fundamental tentang adanya penjelasan rasional atas segala sesuatu; sains juga
membutuhkan imajinasi dan keberanian yang tidak berbeda dengan kreativitas
keagamaan. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau
prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama
lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan
kepercayaan tersebut. Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang
berarti “tradisi”Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi
yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare
yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan ber-religi, seseorang
mengikat dirinya kepada Tuhan (Wikipedia Indonesia). Dalam bahasa sansekerta,
kata agama berarti tradisi. Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa agama
artinya tidak bergerak. Dalam bahasa Latin, agama itu hubungan manusia dengan
manusia super. Ada juga yang beranggapan bahwa agama merupakan pengakuan dan
pemuliaan kepada Tuhan. Dalam bahasa Eropa, Agama itu sesuatu yang tidak dapat
dicapai hanya dengan tenaga akal dan pendidikan saja. Agama itu kepercayaan
kepada adanya kekuasan mengatur yang bersifat luar biasa, yang pencipta dan
pengendali dunia, serta yang telah memberikan kodrat rohani kepada manusia yang
berkelanjutan sampai sesudah manusia mati.
Sedangkan
dalam bahasa Indonesia, agama merupakan hubungan manusia Yang Maha Suci yang
dinyatakan dalam bentuk suci pula dan sikap hidup berdasarkan doktrin
tertentu.Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga
disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan
kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
6
B. Sejarah
Hubungan Sains dan Agama
Hubungan
sains dan agama dari abad ke abad mengalami pasang surut. Ada masa saat islam
dan sains terhubung secara harmonis ada pula konflik yang terjadi dalam
hubungan islam dan sains. Contoh hubungan agama dan sains yang berlangsung
harmonis pada masa kejayaan peradaban islam. Istilah sains dalam Islam,
sebenarnya berbeda dengan sains dalam pengertian Barat modern saat ini, jika
sains di Barat saat ini difahami sebagai satu-satunya ilmu, dan agama di sisi
lain sebagai keyakinan, maka dalam Islam ilmu bukan hanya sains dalam pengertian
Barat modern, sebab agama juga merupakan ilmu, artinya dalam Islam disiplin
ilmu agama merupakan sains.
Banyak
ilmuwan muslim dari tahun 700 M hingga Abad 13 M yang mengembangkan beragam
ilmu pengetahuan, seperti astologi, astronomi, kedokteran, anatomi, optik,
farmakologi, psikologi, ilmu bedah, zoologi, biologi, botani, mineralogi,
metalurgi, sosiologi, hidrostatik, filsafat, puisi, musik, navigasi, sejarah,
arsitektur, geografi, fisika, matematika, serta kimia. Dalam Islam tidak
dikenal pemisahan esensial antara “ilmu agama” dengan ilmu “ilmu profan”.
Berbagai ilmu dan perspektif inteletual yang dikembangkan dalam Islam memang
mempunyai suatu hirarki. Tetapi herarki ini pada akhirnya bermuara pada
pengetahauan tentang “Yang Maha Tunggal” – Substansi dari segenap ilmu.
Inilah
alasan kenapa para ilmuawan Muslim berusaha mengintergrasikan ilmu-ilmu yang
dikembangkan peradaban-peradaban lain ke dalam skema hirarki ilmu pengetahuan
menurut Islam. Dan ini pulalah alasan kenapa para “ulama”, pemikir, filosof dan
ilmuwan Muslim sejak dari al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina sampai al-Ghazali,
Nashir al-Din al-Thusi dan Mulla Shadra sangat peduli dengan klassifikasi
ilmu-ilmu.
Berbeda
dengan dua klasifikasi yang dikemukakan di atas, yakni ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu
umum, para pemikir keilmuan dan ilmuwan Muslim di masa-masa awal membagi
ilmu-ilmu pada intinya kepada dua bagian yang diibaratkan dengan dua sisi dari
satu mata koin; jadi pada esesnsinya tidak bisa dipisahkan. Yang pertama,
adalah al-„ulûm al-naqliyyah, yakni ilmu-ilmu yang disampaikan Tuhan melalui
wahyu, tetapi melibatkan penggunaan akal. Yang kedua adalah al-„ulûm
al-„aqliyyah, yakni ilmu-ilmu intelek, yang diperoleh hampir sepenuhnya melalui
penggunaan akal dan pengalaman empiris. Kedua bentuk ilmu ini secara
bersama-sama disebut al-„ulûm alhushuli, yaitu ilmu-ilmu perolehan.
7
Isitilah
terakhir ini digunakan untuk membedakan dengan “ilmu-ilmu” (ma‟rifat) yang
diperoleh melalui ilham (kasyf).
Konflik
antara agama dan sains ,khususnya di dunia Barat, telah dimulai pada
masarenaisans sejak abad 15, ketika Galileo menentang paham geosentris (bumi
merupakan pusat tata surya) yang dianut oleh gereja. Galileo dianggap
mengingkari keyakinan agamanya (kristen) bahwa bumi adalah pusat edar tata surya.
Ketaksesuaian agama dan sains berlanjut hingga masa sesudahnya (masa Newton /
masa sains modern).
Sejarah
sains Eropa masa kebangkitan (abad 14 dan 15) mencatat bahwa sains muncul tidak
hanya dalam rangka melepaskan hegemonik gereja sebagai institusi pemegang
kekuasaan tertinggi, tetapi juga sebagai momentum transformasi sains ke dalam
utilitas teknik (aplikasi nyata). Para ahli sejarah sepakat bahwa sejarah
perkembangan sains modern beserta aplikasi teknologi yang ada sekarang diawali
oleh Newton (mekanika klasik).
Mekanika
klasik Newton berdampak besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan saat itu.
Konsep mekanika klasik Newton bersifat mekanistik deterministik (apabila
kondisi awal dari sesuatu dapat ditentukan, maka kondisi berikutnya dapat
diprediksi secara tepat). Pada abad ke 19,adalah puncak konflik agama dan sain
saat Charles Darwin memunculkan bukunya The Origin of Species (hanya dengan
‘menjejer dan mengurutkan’ tulang tengkorak berusaha menghubungkan secara
evolusioner)
Ada
2 pendapat tentang teori ini,yaitu :
1.
Kelompok pendukung teori Darwin (kalangan materialisme dan komunisme). Mereka
berdalih bahwa teori tersebut merupakan pondasi atau dasar dari paham dan
ajaran yang mereka anut. Tokoh yang paling terkenal dalam mendukung teori
Darwin ini salah satunya adalah Karl Marx.
2.
Kelompok penentang teori Darwin. Alasan mereka cukup beragam dalam penentangan
terhadap teori tersebut. Diantaranya adalah Darwin terlalu berspekulasi
terhadap teorinya sendiri, dan ini terlihat dalam bukunya (The Origin of
Species). Adapun alasan yang lain adalah karena Darwin telah meniadakan
keberadaan Sang Pencipta dalam penciptaan makhluk hidup itu sendiri.
8
Namun
sejarah juga mencatat adanya konflik agama dan sains,yaitu pada saat
teori-teori baru ditemukan oleh:
Galileo
(Abad ke-15 M)
Newton
(Abad ke-17 M)
Darwin
(Abad ke-19 M).
Pertentangan
di dalam teori Darwin ini sangatlah luar biasa di dunia barat hingga hampir
akhir abad ke-20. Tak ayal, masih banyak ilmuwan yang mengkaji akan keabsahan
teori ini. Karena sesungguhnya, ilmu pengetahuan yang ada dan dipelajari ini
sepatutnya diiringi dengan meyakini akan keberadaan Tuhan. Hal ini sejalan
dengan ungkapan manusia terpintar yang pernah ada, Albert Einstein yang
menyatakan, “Saya tidak bisa membayangkan ada ilmuwan sejati tanpa keimanan
mendalam seperti itu. Ibaratnya: ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang”
(Harun Yahya: 2001) Masa Reda Konflik
Agama dan Sains mulai berlangsung pada abad 21.
Masyarakat
dan ilmuwan mulai terbuka tentang isu-isu agama dan sains. Muncul paradigma
baru dalam ilmu pengetahuan mekanistik deterministik menjadi probabilistik
relatifistik. Sesuatu memiliki banyak kemungkinan alternatif pemecahan
persoalan. Melahirkan ilmu-ilmu baru seperti material science, mikro elektronika,
kimia fisika kuantum, astrofisika, dll.
Bahkan
Ian G. Barbour (2002:47) mencoba memetakan hubungan sains dan agama dengan
membuka kemungkinan interaksi di antara keduanya. Melalui tipologi posisi
perbincangan tentang hubungan sains dan agama, dia berusaha menunjukkan
keberagaman posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan sains dan
agama.
Tipologi
ini berlaku pada disiplin-disiplin ilmiah tertentu, salah satunya adalah
biologi. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu: Konflik, Independensi,
Dialog, dan Integrasi yang tiap-tiap variannya berbeda satu sama lain.
9
C. Peran
Agama Terhadap Perkembangan Sains
Peran
Islam dalam perkembangan iptek pada dasarnya ada 2 (dua) Pertama, menjadikan
Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma inilah yang
seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada
sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa Aqidah Islam wajib dijadikan
landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh bangunan ilmu pengetahuan. Ini
bukan berarti menjadi Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu
pengetahuan, melainkan menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan.
Maka
ilmu pengetahuan yang sesuai dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan,
sedang yang bertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan.
Kedua, menjadikan Syariah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar
bagi pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria
inilah yang seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar manfaat
(pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Paradigma Hubungan
Agama-Iptek Untuk memperjelas, akan disebutkan dulu beberapa pengertian dasar.
Ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh
melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method) (Jujun S.
Suriasumantri, 1992). Sedang teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilan yang
merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari (Jujun
S. Suriasumantri,1986). Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala langkah
dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek (Agus,
1999).
Agama
yang dimaksud di sini, adalah agama Islam, yaitu agama yang diturunkan Allah
SWT kepada Nabi Muhammad SAW, untuk mengatur hubungan manusia dengan
Penciptanya (dengan aqidah dan aturan ibadah), hubungan manusia dengan dirinya
sendiri (dengan aturan akhlak, makanan, dan pakaian), dan hubungan manusia
dengan manusia lainnya (dengan aturan mu’amalah dan uqubat/system pidana) (An-Nabhani,
2001). paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar
dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu
pengetahuan.Aqidah Islam yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam Al-Qur`an
dan Al-Hadits menjadi qa’idah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas
yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan
manusia (An-Nabhani, 2001).
10
Paradigma
ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan
Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu. Ini bias kita pahami dari ayat yang
pertama kali turun (artinya) : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan. (QS Al-Alaq 96 ; 1) Ayat ini berarti manusia telah diperintahkan
untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala
pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah
dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan
asas Aqidah Islam (Al-Qashash, 1995:81).
Paradigma
Islam ini menyatakan bahwa, kata putus dalam ilmu pengetahuan bukan berada pada
pengetahuan atau filsafat manusia yang sempit, melainkan berada pada ilmu Allah
yang mencakup dan meliputi segala sesuatu (Yahya Farghal, 1994:117). Firman
Allah SWT (artinya) : Dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala
sesuatu.
(QS
An-Nisaa` 4 : 126) Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala
sesuatu. (QS Ath-Thalaq 65 : 12) Itulah paradigma yang dibawa Rasulullah SAW
(w. 632 M) yang meletakkan Aqidah Islam yang berasas Laa ilaaha illallah
Muhammad Rasulullah sebagai asas ilmu pengetahuan.
Beliau
mengajak memeluk Aqidah Islam lebih dulu, lalu setelah itu menjadikan aqidah
tersebut sebagai pondasi dan standar bagi berbagai pengetahun. Ini dapat
ditunjukkan misalnya dari suatu peristiwa ketika di masa Rasulullah SAW terjadi
gerhana matahari, yang bertepatan dengan wafatnya putra beliau (Ibrahim).
Orang-orang berkata. Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim.
Maka Rasulullah SAW segera menjelaskan : Sesungguhnya gerhana matahari dan
bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, akan tetapi
keduanya termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah.
Dengannya
Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya (HR. Al-Bukhari dan An-Nasa`i)
(Al-Baghdadi, 1996:10) Dengan jelas kita tahu bahwa Rasulullah SAW telah
meletakkan Aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan, sebab beliau
menjelaskan, bahwa fenomena alam adalah tanda keberadaan dan kekuasaan Allah,
tidak ada hubungannya dengan nasib seseorang.
Hal
ini sesuai dengan aqidah muslim yang tertera dalam Al-Qur`an (artinya) :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (QS
Ali Imran 3 :190)
11
D. Kasus
Pertentangan Saintis dan Agamawan
Kasus
pengucilan Galileo oleh Gereja Katolik merupakan contoh nyata betapa agama
diinterpretasikan tidak dengan tepat dalam hal pencarian kebenaran, sekalipun
Gereja Katolik merehabilitasi kesalahan tersebut 500 tahun kemudian, peristiwa
tersebut tetap saja menjadi acuan betapa agama selalu ketinggalan dibandingkan
dengan sains.
Galileo
Galilei (15 Februari 1564 – 8 Januari 1642) adalah seorang astronom, filsuf dan
fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah, ia diajukan
ke pengadilan Gereja Italia pada 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari
sebagai pusat tata surya bertentangan dengan keyakinan Gereja bahwa bumi adalah
pusat alam semesta, pemikirannya ini menyebabkan Dinas Suci Inkuisi gereja Katolik
mengucilannya.
Otoritas
tertinggi Gereja Katolik bahkan ingin menghapuskannya dari sejarah perkembangan
ilmu pengetahuan manusia. Semua itu terjadi karena ilmuwan yang juga menulis
puisi dan kritik sastra ini menyuarakan sebuah pandangan yang waktu itu
dianggap sebagai sebuah kekafiran besar yang akan merusak akidah umat.
Pandangan
kosmologis yang dinggap “kafir” ini, yang juga dikenal sebagai sistem
Heliosentris sebenarnya sudah dipikirkan oleh manusia sejak lebih dari 2.000
tahun yang silam. Karena ajaran Aristoteles dan kitab Suci Injil yang
mengunggulkan sistem Geosentris yang dirumuskan Ptolomeus, sistem Heliosentris
ini hilang dari dunia pengetahuan manusia. Sistem kosmos ini kemudian muncul
kembali di Eropa Renaisans lewat pemikiran biarawan Nikolaus Kopernikus (1473 –
1543). Pandangan ini kemudian dikukuhkan oleh Johannes Kepler (1571 -1630) yang
mengajukan sejumlah hokum gerak dan orbit benda-benda langit (Arsuka. 2004).
Gaileo
mencoba menandaskan kebenaran sistem Heliosentris dengan menggunakan teorinya
sendiri yang ia anggap lebih kuat. Galileo berpendapat bahwa bumi bergerak
mengintari matahari dan bahwa sistemm kopernikan “lebih mendekati kenyataan
daripada pandangan lain yang dikemukakan Aristoteles dan Ptolomeus.” Teori
Heliosentris Kopernikus member penjelasan sederhana atas gerak-gerak planet
yang telah membingungkan kaum cerdik cendekia, sambil menata ulang susunan
planet-planet yang sudah dikenal saat itu, sistem Heliosentris menawarkan diri
sebagai sistem yang lebih masuk akal dibandingkan dengan sistem tradisional
Geosentris.
12
Saling
menggugat pandangan religious klasik atas posisi manusia di alam semesta yang
menganggap bahwa bumi adalah pusat jagat raya, dan vatikan adalah pusat dunia,
sistem Heliosentris tampak absurd dilihat dari sudut pandang pengetahuan fisika
yang dipahami pada waktu itu. Sistem ini juga menentang pengalaman indrawi
manusia yang dengan mata telanjang melihat matahari mengedari bumi dengan
terbit di timur dan surut di barat.
Sampai
pada persimpangan abad ke-16 dan ke-17, para pemikir tumbuh dan terdidik dalam
pemikiran Aristotelian, dalam faham fisika Aristoteles, benda-benda selalu
bergerak menujun tempat mereka yang alami. Batu jatuh karena tempat alami
benda-benda yang berbobot adalah pada pusat alam semesta, dan itu pula sebabnya
maka bumi yang berat ini ada di tempatnya, yakni dipusat alam semesta itu.
Menerima
sistem Kopernikan bukan saja berarti manampik fisika Aristoteles dan membuang
sistem geosentris Ptolomeus, itu juga berarti membantah kitab suci Injil yang
dengan tegas menyebutkan bahwa bumi dipasak pada tempatnya. “Oh, Thanku,
kau-lah yang Maha Besar …kau pancangkan bumi pada fondasinya, tiada bergerak
untuk selamanya.” (Mazmur 103:1,5).
Konflik
Galileo Galilei dengan Gereja Katolik Roma adalah sebuah contoh awal konflik
antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir pada masyarakat barat. Sejarah
pertentangan Galileo dengan Gereja seringkali hanya ditafsirkan sebatas
ketertutupan agama terhadap sains. Padahal inti persoalannya adalah pertanyaan
tentang kebenaran.
Apakah
sains memberi landasan bagi kita memperoleh kepastian mengenai dunia? Apakah
sains bisa membawa kita untuk sampai pada kebenaran? Hokum agama kerapkali
diterapkan dalam kehidupan manusia secara harafiah, sehingga penerapan tulisan
dalam kitab suci mampu mengesampingkan argument ilmu pengetahuan sebagaimana
terjadi dengan Galileo Galilei.
Sebuah
kasus menarik lainnya adalah menyangkut bagaimana sebuah ayat di Al Quran
dinterpretasi secara sangat berbeda oleh kalangan agama (dalam hal ini
Departemen Agama RI), dan oleh seorang ahli matematika dan fisika dari mesir.
Ayat tersebut dalah QS As Sajdah Ayat 5: “Dia mengatur urusan dari langit ke
bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah
seribu tahun menurut perhitunganmu.”
13
Pandangan
agamawan dalam menafsirkan ayat di atas tergambar dari penafsiran yang
dilakukan oleh Departemen Agama Republik Indonesia sebagaimana terdapat dalam
catatan kaki pada terjemehan Al Quran versi Departemen Agama RI, bahawa ayat
tersebut hanyalah merupakan tamsil atau perumpamaan semata atas keagungan dan
kebesaran Tuhan.
Contoh
penafsiran yang dilakukan oleh Departemen Agama RI ini adalah contoh nyata
betapa penafsiran ayat-ayat yang terdapat dalam kitab suci belum dilakukan
dengan pendekatan rasionalitas ilmu pengetahuan modern, penafsiran seperti itu
bias di mafhumi karena tentu dilakukan dengan dsar pandangan dogmastis yang
lebih sempit dri sutu otoritis tradisional yang mempunyai keterbatasan
pemahaman sains dan ilmu pengetahuan alam modern seperti matematika, fisika
maupun astronom.
Sementara
itu, Dr. Mansour Hassab Elnaby, seorang ahli matematikadan fisika dari Mesir,
dengan pemahaman fisika dan matematikanya mencoba menginterpretasikan ayat
diatas dari sudut pandang teori fisika, matematika dan astronomi. Mengacu pada
QS As Sajdah Ayat 5, Dr. Mansour menyampaikan bahwa jarak yang dicapai “sang
urusan” selama satu hari adalah sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama
1.000 tahun atau 12.000 bulan. Dr. Mansour menyatakan bahwa “sang urusan”
inilah yang diduga sebagai sesuatu “yang berkecepatan cahaya”.
Dr.
Mansour Hassab Elnaby, mengurakan secara jelas dan sistematis tentang cara
menghitung kecepatan cahaya berdasarkan ayat Al Quran diatas. Dalam menghitung
menghitung kecepatan cahaya ini, Dr. Mansour menggunakan sistem yang lazim
dipakai oleh ahli astronomi yaitu sistem siderial. Dengan pendekatan ini Dr.
Mansour
membuktikan secara matematis bahwa hubungan “sehari = seribu tahun” membawa
pada hubungan matematika fisika yang menghasilkan angka kecepatan cahaya.
Deskripsi detil mengenai pembuktian dan perhitungan yang dilakukan oleh Dr.
Mansour dapat dilihat dalam lampiran.
Ilmu-ilmu
modern telah berkembang berdasarkan prinsip rasionalitas ini, sebelumnya
pemahaman ilmu pengetahuan seperti mandul ketika semua pengetahuan manusia
dijalankan secara dogmatis berdasarkan dalil-dalil dari ahli-ahli Yunani kuno
yang disampaikan oleh Aristoteles, Ptolemaueus, dan lain-lain, maupun
sebagaimana tersurat dalam kitab suci (yang juga diinterpretasikan secara
dogmatis).
14
E. Al-Qur’an
Sebagai Sumber Ilmu Sains
Di
zaman sekarang, bila kita amati banyak orang yang mencoba menafsirkan beberapa
ayat al-Qur’an dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern. Tujuan utamanya
adalah untuk menunjukkan mukjizat al-Qur’an sebagai sumber segala ilmu, dan
untuk menumbuhkan rasa bangga kaum muslimin karena telah memiliki kitab yang
sempurna ini.Tetapi, pandangan yang menganggap bahwa al-Qur’an sebagai sebuah
sumber seluruh ilmu pengetahuan ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab kita
mendapati banyak ulama besar kaum muslim terdahulu pun berpandangan demikian.
Diantaranya
adalah Imam al-Ghazali. Dalam bukunya Ihya ‘Ulum al-Din, beliau mengutip
kata-kata Ibnu Mas’ud: “Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau
dan pengetahuan modern, selayaknya dia merenungkan al-Qur’an”.
Selanjutnya
beliau menambahkan: “Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam karya-karya dan
sifat-sifat Allah, dan al-Qur’an adalah penjelasan esensi, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya.
Tidak ada batasan terhadap ilmu-ilmu ini, dan di dalam al-Qur’an terdapat
indikasi pertemuannya (al-Qur’an dan ilmu-ilmu)”.
Bahkan
pada sebuah sumber yang dikutip oleh penulis, dijelaskan bahwa mukjizat Islam
yang paling utama ialah hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Surah pertama
(al-Alaq, ayat 1-5) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ialah nilai
tauhid, keutamaan pendidikan, dan cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
diberikan penekanan yang mendalam.
Firman
Allah SWT (Al-alaq 1-5) :
Artinya
: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah
menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaran kalam. Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Kata
“bacalah” dalam ayat tersebut mengandung arti tentang perintah menuntut ilmu,
apalagi pada saat itu (awal kenabian), bangsa Arab sedang berada pada zaman
jahiliyah (kebodohan).
15
Jika
sains dikaitkan dengan fenomena alam, maka dalam al-Qur’an lebih dari 750 ayat
menjelaskan tentang fenomena alam. Salah satunya adalah pada Surah Luqman, ayat
10.
Artinya:
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan dia meletakkan
gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan
memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan kami turunkan
air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan
yang baik.”
Dalam
ayat tersebut, menjelaskan tentang betapa besarnya kekuasaan Allah SWT. dalam
menciptakan mahluk-mahlukNya. Tidak berhenti sampai disitu, kita juga
diperintahkan untuk mempelajarinya (mahluk). Hal ini telah banyak dilakukan
oleh orang (ilmuwan) Barat, dan malah kebanyakan dari kita hanya mengikuti apa yang
mereka katakan. Padahal, kita sebagai hambaNya seharusnya memiliki keharusan
yang lebih besar dari pada mereka.
Karena
bila diamati, tidak sedikit dari pandangan mereka melenceng dari ajaran agama
Islam. Bila kita hanya mengikuti mereka, dikhawatirkan kita akan terjerumus
kedalam jalan kesesatan bersama mereka. Seperti contoh, pandangan Darwin
tentang teori evolusi yang menyebutkan bahwa manusia zaman dahulu memiliki
bentuk fisik menyerupai kera, itu merupakan pendapat yang tidak sesuai dengan
al-Qur’an. Karena secara jelas, manusia pertama yang diciptakan Allah adalah
Nabi Adam AS.
Mempelajari
ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan (sains) merupakan hal yang
sangat sulit, maka dari itu, Islam sangat memuliakan para ahli ilmu, sehingga
dalam Surah al-Mujadilah ayat 11, derajat mereka diangkat oleh Allah SWT.
Artinya
: "......... niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dalam
potongan ayat tersebut, Allah mengajarkan iman dengan ilmu. Disinilah terlihat
betapa pentingnya ilmu, karena orang yang beriman tanpa memiliki ilmu maka
segala ibadahnya akan ditolak. Sedangkan sebaliknya, orang berilmu tanpa
beriman, maka ilmunya dapat menyesatkannya menuju jalan yang dilarangNya.
16
Disinilah,
kita sebagai hambaNya yang beriman harus ekstra hati-hati dalam mempelajari
suatu ilmu. Kita harus selalu mengembalikan semuanya kepadaNya, kita harus
berusaha mencocokkan segala jenis ilmu dengan kalamNya (al-Qur’an) yang
sempurna.
Karena
sudah jelas, al-Qur’an membahas banyak Ilmu, antara lain ilmu yang berhubungan
dengan kemasyarakatan yang memberi pedoman dan petunjuk berkaitan dengan
perundang-undangan tentang halal dan haramnya suatu aktiviti, peradaban,
muamalat antara manusia dalam bidang ekonomi, perniagaan, sosiolbudaya,
peperangan dan perhubungan antar bangsa. Juga terdapat maklumat ataupun isyarat
tentang perkara-perkara yang telah menjadi tumpuan kajian sains, misalnya,
sidik jari sebagai tanda pengenal, penciptaan bumi dan langit, dan lain-lain.
Dari
sini, maka pantaslah kalau di zaman ini banyak ilmuwan (ilmuwan Barat
khususnya) yang berusaha mempelajari al-Qur’an demi memahami suatu kajian
sains. Tapi, kita sebagai umat Muslim jangan sampai kalah dengan mereka,
sehingga peradaban Islam dapat bangkit kembali. Ketika peradaban Islam mulai
bangkit, maka kemungkinan besar dunia dapat dikuasai oleh Islam, sehingga
konsep Islam sebagai agama yang “Rahmatan lil-‘Alamin” (kesejahteraan bagi
seluruh dunia) dapat terwujud secara nyata.
17
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada
kenyataannya kita memang tidak bisa mencampuradukan pola pikir sains dengan
agama, terdapat perbedaan cara pikir agama dan sains. Agama memang mengajarkan
untuk menjalani agama dengan penuh keyakinan, sedangkan sebaliknya dalam sains
skeptisme dan keragu-raguan justru menjadi acuan untuk terus maju, mencari dan
memecahkan rahasia alam.
Sains
seharusnya memang dapat diuji dan diargumentasi oleh semua orang tanpa
memandang apapun keyakinannya. Semua penganut agama harus memahami bahwa bumi
berputar mengelilingi matahari, bukan sebaliknya. Semua penganut agama harus
paham bahwa sinar matahari dapat dikonversi menjadi energi, karena hal ini
memang terbukti melalui pendekatan sains.Sains sebenarnya dapat mempertebal
keyakinan dan keimanan, namun demikian iman juga dapat digoyahkan oleh sains
seandainya dicampuradukan dengan pemahaman agama. Pengkaitan fenomena alam
dengan ayat-ayat suci secara serampangan bias jadi malah akan memberikan
pemahaman yang salah. Bagi para agamawan yang kurang memahami sains, tindakan
ini akan menyesatkan. Sebaliknya, mengkaitkan sains dengan agama oleh mereka
yang tidak atau kurang dibekali agama bisa membuat kesimpulanyang diambil
menjadi konyol dan menggelikan.
Dari
sini, maka pantaslah kalau di zaman ini banyak ilmuwan (ilmuwan Barat
khususnya) yang berusaha mempelajari al-Qur’an demi memahami suatu kajian
sains. Ketik Islam mulai bangkit, maka kemungkinan besar dunia dapat dikuasai
oleh Islam, sehingga konsep Islam sebagai agama yang “Rahmatan lil-‘Alamin”
(kesejahteraan bagi seluruh dunia) dapat terwujud secara nyata.
B. Saran
Berdasarkan
hal di atas kami mengajak pembaca untuk bisa lebih mempelajari lebih mendalam
tentang Sains dan Agama. Sehingga pembaca dapat menambah wawasan/pengetahuan
tentang Sains dan Agama, adapun kekurangan pada makalah ini, kami mohon maaf
atas segalah kekurangan, karena tidak adalah yang sempurna di dunia ini, kami
berterima kasih kepada pembaca yang telah membaca makalah ini, semoga makalah
ini bisa bermanfaat. “Assalamu Alaikum
Waromatullahi wabarakatu”
18
DAFTAR
PUSTAKA
https://www.google.com/
http://kumpulanilmu2.blogspot.com/2013/02/